PANGKALPINANG - Di hari pertama pelatihan tenaga ahli konstruksi yang diselenggarakan oleh Dinas PUPRPRKP Provinsi kepulauan Bangka Belitung, narasumber dari Asosiasi Tenaga Teknik Dan Terampil Indonesia (ASTATTINDO) Syaifullah Asnan menyampaikan materi mengenai Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan kerja proyek (SMK 3), pada senin (13/09/2021). 

Berdasarkan PERMEN PU PR NO:5 TAHUN 2014, Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan (SMK 3) harus dilibatkan dan diterapkan dalam tahapan konstruksi dimulai dari pra-konstruksi, Tahap Pemilihan Penyedia Barang/Jasa, Tahap Pelaksanaan Konstruksi dan Tahap Pelaksanaan Konstruksi Tahap Penyerahan Hasil Akhir Pekerjaan. 

Penerapan SMK 3 memiliki tujuan untuk memberikan jaminan perlindungan terhadap segala sumber produksi yaitu Pekerja, Bahan, Mesin/Instalasi dan peralatannya sehingga dapat digunakan secara efisien dan terhindar dari kerusakan. 

Dalam penjelasannya Syaifullah menerangkan “Penerapan SMK 3 bertujuan untuk memberikan perlindungan terhadap setiap orang yang berada di tempat kerja sehingga terjamin keselamatan dan kesehatannya akibat dari proses pada kegiatan konstruksi serta memberi jaminan perlindungan dan rasa aman bagi pekerja dalam melakukan pekerjaan sehingga tercapai tingkat produktivitas yang tinggi”

Ia menyebutkan penyebab utama kecelakaan kerja konstruksi terbagi menjadi dua faktor yaitu faktor manusia dan faktor lingkungan seperti masih terbatasnya persepsi tentang K3 dan lemahnya pengawasan K3.

“Ada anggapan bahwa K3 menambah biaya  dan tanggung jawab K3 hanya pada kontraktor saja apalagi saat ini masih kurang aktifnya perusahaan asuransi terhadap K3  dan faktor lainnya adalah tidak dilibatkan tenaga ahli serta  kurang disiplinnya para tenaga kerja dalam mematuhi ketentuan mengenai K3”.ungkapnya.

Syaifullah juga menjelaskan kepada peserta pelatihan tenaga ahli konstruksi bahwa faktor lingkungan juga berpengaruh saat pelaksanaan proyek konstruksi seperti cuaca pada saat pengerjaan proyek akan sangat  berbeda saat dilaksanakan di musim kemarau dengan musim penghujan.

“Faktor lingkungan berpengaruh akan pengerjaan proyek selain itu kurang memadainya kualitas dan kuantitas ketersediaan peralatan pelindung diri, waktu pelaksanaan proyek konstruksi yang terbatas dan lokasi/ lingkungan kerja proyek konstruksi yang berbeda - beda” tambahnya.

Maka dari itu pentingnya keterlibatan tenaga ahli K3 konstruksi dan penggunaan metode pelaksanaan yang tepat akan berpengaruh akan keberlangsungan keselamatan dan perlindungan pekerja dalam proyek konstruksi.